--> Skip to main content

MAKALAH SISTEM EVALUASI DALAM ISLAM

  
SISTEM EVALUASI DALAM PENDIDIKAN ISLAM

Makalah Ini Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Kelompok
Mata kuliah:Ilmu Pendidikan Islam
Dosen pengampu:Dr.H.Wawan.A.Ridwan,M.Pd



Disusun Oleh :
Muhamad Azka Muttaqin                   (1608101146)
Muhammad Mu’min                           (1608101158)
M. Ibnu Abbas                                    (1608101149)

PAI-D / SEMESTER : 1
FAKULTAS TARBIYAH / PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SYEKH NURJATI CIREBON
Jalan Perjuangan By Pass Sunyaragi Cirebon-Jawa Barat 45132
2016



BAB I
PEMDAHULUAN
A . Latar belakang
Belajar dan Mengajar merupakan pada dasarnya adalah persoalan kompleks dalam dunia pendidikan yang memerlukan pengembangan secara terus menerus. Peoses belajar mengajar yang melibatkan keberadaan guru dan murid, adalah proses yang dikelilingi begitu banyak masalah. Bagaimana mengajar yang baik, metode apa yang mesti digunakan, bagaimana menciptakan suasana pembelajaran yang mendukung, tujuan pembelajaran seperti apa yang dicapai, dan lain sebagainya adalah pelbagai masalah yang akan ditemui dalam proses tersebut. Oleh karena itu, penguasaan atau strategi belajar mengajar yang menyeluruh adalah wajib adanya bagi seorang guru.
Kegiatan pembelajaran yang memuat tindak interaksi, antara pendidik dan peserta didik berorientasi pada sasaran belajar, berakhir dengan evaluasi. Kegiatan evaluasi terdiri dari kegiatan evaluasi hasil belajar dan kegiatan evaluasi proses pembelajaran. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan evaluasi merupakan bagian integral dari kegiatan pembelajaran dalam dunia pendidikan.
B . Rumusan Masalah
Dalam penulisan makalah ini, penulis akan merumuskan masalah-masalah yang akan dibahas di dalam makalah ini, yaitu:
1.      Apa pengertian dari evaluasi dalam proses pendidikan.
2.      Bagaimana tujuan dan fungsi evaluasi dalam proses pendidikan.
3.      Bagaimanakedudukan evaluasi dalam proses pendidikan.
4.      Apa macam-macam konsep evaluasi pembelajaran.
5.      Apa langkah-langkah prosedur dalam konsep evaluasi.



BAB II
PEMBAHASAN
A.    KONSEP DASAR EVALUASI
Setiap orang yang melakukan suatu kegiatan akan selalu tahu hasil dari kegiatan yang dilakukannya. Sering kali pula, orang yang melakukan kegiatan tersebut, berkeinginan mengetahui baik atau buruknya kegiatan yang dilakukannya. Siswa dan guru merupakan orang-orang yang terlibat dalam kegiatan pembelajaran, tentu mereka juga berkeinginan mengetahui proses dan hasil kegiatan pembelajaran, maka seorang guru harus menyelenggarakan evaluasi. Kegiatan evaluasi yang dilakukan guru mencakup evaluasi hasil belajar dan evaluasi pembelajaran sekaligus.

1.      PENGERTIAN EVALUASI.
Istilah evaluasi berasal dari bahasa inggris, yaitu. Evaluation. Dalam buku esential of educational evaluation karangan edwin wand dan gerald w.brown,  diaktakan bahwa “evaluation refer of the act or procces to determining the value of action refer to the value of something”. Evaluasi adalah suatu tindakan atau proses untuk menetukan nilai dari suatu tindakan atau suatu proses untuk menetukan nilai dari sesuatu. Senada dengan pendapat diatas, wayan Nurkancana dan Sumartana (1983) berpendapat bahwa evaluasi pendidikan dapat diartikan sebagai suatu tindakan atau suatu proses untuk menetukan nilai segala sesuatu dalam dunia pendidikan atau segala sesuatu yang ada hubungannya dengan dunia pendidikan.[1]
Apabila lebih lanjut kita kaji pengertian evaluasi, pengukuran, dan penilaian kita kaitkan dengan kegiatan belajar dan pembelajaran, maka kita akan memperoleh pengertian yang tidak jauh berbeda dengan pengertiannya secara umum. Pengertian evaluasi belajar dan pembelajaran adalah proses untuk menetukan nilai belajar dan pembelajaran yang dilaksanakan, dengan melalui kegiatan penilaian atau pengukuran belajar dan pembelajaran. Sedangkan pengertian pengukuran dalam belajar dan pembelajaran adalah proses perbandingan tingkat keberhasilan belajar dan pembelajaran dengan ukuran keberhasilan belajar dan pembelajaran yang telah ditentukan secara kuantitatif. Pengertian penilaian belajar dan pembelajaran adalah proses pembuatan keputusan nilai keberhasila belajar dan pembelajaran secara kualitatif. [2]
Menurut Depdiknas (2006), yang dimaksud dengan evaluasi adalah kegiatan identifikasi untuk melihat apakah suatu program yang telah direncanakan tercapai atau belum. Berharga atau tidak, dan dapat pula untuk melihat tingkat efisiensi pelaksanaannya. Evaluasi berhubungan dengan keputusan nilai (value judgment). Secara operasional, Evaluasi adalah kegiatan mengumpulkan data Seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya mengenai kapabilitas siswa guna mengetahui sebab akibat dan hasil belajar siswa guna mendorong atau mengembangkan kemampuan belajar.[3]

2.      KEDUDUKAN EVALUASI DALAM PROSES PENDIDIKAN.[4]
Proses pendidikan merupakan proses pemanusiaan manusia, dimana didalamnya terjadi proses pembudayakan dan memberadabkan manusia. Agar terbentuk manusia yang berbudaya dan beradab, maka diperlukan transformasi kebudayaan dan peradaban. Sebagai proses transformasi, proses pendidikan dapat didiagramkan sebagai berikut:

Masukkandalam proses pendidkan adalah siswa dengan segala karakteristik dan keuinikannya. Untuk memastikan karakteristik dan keunikan siswa yang akan masuk dalam transformasi. Diperlukan evaluasi terhadap masukan. Dengan adanya kepastian tentang karakteristik dan keunikan siswa, akan memudahkan dalam menentukan rancangan program dan proses pembudayaan dan perabadan siswa yang menjadi masukan.
Transformasi dalam proses pendidikan adalah proses untuk membudayakan dan memberadabkan siswa. Lembaga pendidikan merupakan tempat terjadinya transformasii. Keberhasilan transformasi untuk menghasilkan keluaran seperti yang diharapkan dipengararuhi atau ditentukan oleh bekerjanya komponen / unsur yang ada dalam lembaga pendidikan.  Usur-unsur transformasi dalam proses pendidikan, meliputi
·         Pendidikan dan personal lainnya.
·         Isi pendidikan
·         Teknik
·         Sistem evaluasi
·         Sarana pendidikan, dan
·         Sistem administrasi.
Untuk mengetahui efisiensi  dan efektifitas transformasi dalam proses pendidkan perlu dilaksanakan evaluasi terhadap bekerjanya unsur-unsur transformasi.
Keluaran dalam proses pendidikan adalah siswa yang semakin berbudaya dan beradab sesuai dengan tujuan yang ditetapkan. Untuk mengetahui dan menetapkan apakah siswa telah sesuai dengan tujuan atau ditetapkan lembaga pendidikan atau belum, diperlukan kegiatan evaluasi.
Umpan balik dalam proses pendidikan adalah segala informasi yang berhasil diperoleh selama proses pendidikan yang digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk perbaikan masukan dan transformasi yang ada dalam proses. Adanya umpan balik yang akurat sebagai hasil evaluasi yang akurat pula, akan memudahkan kegiatan proses pendidkan.
Apabila kita perhatikan uraian sebelumnya, kita melihat bahwa setiap unsur yang ada pada proses transformasi pendidikan membutuhkan kegiatan evaluasi, dengan demikian jelaslah bahwa kedudukan evaluasi dalam proses pendidikan bersifat integratif, artinya setiap ada proses pendidikan pasti ada evaluasi. Seperti ketahui juga bahwa mengadakan kegiatan evaluasi mulai sejak siswa akan memasuki proses pendidikan, selama proses pendidikan dan berakhir pada satu tahap proses pendidikan.
B.     EVALUASI HASIL BELAJAR.
1.      FUNGSI DAN TUJUANEVALUASI.
Dalam proses pendidikan islam, tujuan merupakan sasaran ideal yang hendak dicapai dalam program dan diproses dalam produk pendidikan islam atau otput kependidikan islam.
Dengan memperhatikan kekhususuan tugas pendidikan islam yang meletakkan faktor pengembangan fitrah anak didik, nilai-nilai agama dijadikan landasan kepribadian anak didik yang dibentuk melalui proses itu maka idealitas islam yang telah terbentuk dan menjiwai pribadi anak didik tidak dapat diketahui oleh pendidik muslim, tanpa melalui proses evaluasi
Evaluasi dalam pendidikan islam merupakan cara atau tekhnik penilaian terhadap tingkah laku anak didik berdasarkan standar perhitungan yang bersifat komprehensif dari seluruh aspek-aspek kehidupan mental psikologis dan spritiual – religius, karena manusia bukan saja sosok pribadi yang tidak hanya bersikap religius, melainkan juga berilmu dan berketrampilan yang sanggup beramal dan berbakti kepada tuhan dan masyarakatnya. [5]
Pendidikan islam secara rasional – filosofis bertujuan untuk membentuk al-insan al-kamil/ manusia yang sempurna. Berangkat dari konsep ini. Pendidikan islam hendaknya diarahkan pada 2 dimensi yaitu:
1.      Dimensi dialegtikal horizontal dan dimensi ketundukan vertikal.[6]
2.      Secara umum, tujuan dan fungsi pendidikan islam diarahkan pada 2 dimensi diatas.
3.      Secara khusus, tujuan evaluasi adalah untuk mengetahui kadar pemilikan dan pemahaman peserta didik terhadap materi pelajaran.[7]
Dari pengertian evaluasi kita dapat mengetahui bahwa evaluasi hasil belajar merupakan proses untuk menentukan nilai belajar siswa melalui kegiatan penilaian atau pengukuran hasil belajar. Berdasarkan pengertian evaluasi hasil belajar kita dapat mengetahui tujuan utamanya adalah untuk mengetahui tingkat keberhasilan yang dicapai oleh siswa setelah mengikuti suatu kegiatan pembelajaran, diaman tingkat keberhasilan tersebut kemudian diatandai dengan skala nilai berupa huruf atau kata simbol. Apabila tujuan utama kegiatan evaluasi hasil belajr ini sudah terealisasi, maka hasilnya dapat difungsikan dan ditunjukkan untuk berbagai keperluan.
Hasil dari kegiatan evaluasi hasil belajar pada akhirnya difungsikan dan ditunjukkan untuk keperluan berikut ini.[8]
a.      Untuk diagnostig dan pengembangan. yang dimaksud dengan hasil dari kegiatan evaluasi untuk diagnostik dan pengembangan adalah penggunaan hasil dari kegiatan evaluasi hasil belajar sebagai dasar pendiagnosisan kelemahan dan keunggulan siswa beserta sebab-sebabnya (arikunto, 1990: 10: Nur kancana, 1986: 4), berdasarkan pendiagnosisan inilah guru mengadakan pengembangan kegiatan pembelajaran untuk meningnkatkan hasil belajar siswa.
b.      Untuk seleksi. Hasil dari kegiatan evaluasi hasil belajar seringkali digunakan sebagai dasar untuk menentukan siswa-siswa yang paling cocok untuk jenis jabatan atau jenis pendidikan tertentu. Dengan demikian hasil dari kegiatan evaluasi hasil belajar digunakan untuk seleksi. (arikunto, 1990:9 : nurkancana, 1986:5-6),
c.       Untuk kenaikan kelas, menentukan apakah seorang siswa dapat dinaikkan kekelas yang lebih tinggi atau tidak, memerlukan informasi yang dapat mendukung keputusan yang dibuat guru. Berdasarkan hasil dari kegiatan evaluasi hasil belajar siswa mengenai sejumlah isi pelajaran yang telah disajikan dalam pembelajaran, maka guru dapat dengan mudah membuat keputusan kenaikkan kelas berdasarkan ketentuan yang berlaku.
d.      Untuk penempatan. Agar siswa dapat berkembang sesuai dengan tingkat kemampuan dan potensi yang mereka miliki, maka perlu dipikirkan ketepatan penempatan siswa pada kelompok yang sesuai. Untuk menempatkan penempatan siswa pada kelompok, guru dapat menggunakan hasil dari kegiatan evaluasi hasil belajar sebagai dasar pertimbangan ((arikunto, 1990:10-11 : nurkancana, 1986:4-5).

Berdasarkan pengertian-pengertian diatas, maka evaluasi memiliki tujuan secara umum, yakni:
Ø  Mengumpulkan data-data yang membuktikan taraf kemajuan murid dalam mencapai tujuan yang diharapkan.
Ø  Memungkin pendidikan / guru menilai aktifitas/ pengalaman yang didapat siswa dalam pembelajaran.
Ø  Menilai metode mengajar yang dipergunakan.[9]
Merujuk pada tujuan evaluasi seperti dikemukakan diatas, maka pelaksanaan evaluasi mempunyai manfaat yang sangat besar baik berkaitan dengan proses belajar mengajar dimasa mendatang.
a.       Sasaran Evaluasi.
Sebagai kegiatan yang berupaya untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam mecapai tujuan yang ditetapkan, maka evaluasi hasil belajar memiliki sasaran berupa ranah-ranah yang terkandung dalam tujuan.
Sasaran evaluasi tidak hanya bertujuan untuk peserta didik saja tapi bertujuan juga mengevaluasi pendidik, materi pendidikan, proses penyampaian materi pelajaran dan berbagai aspek lainnya yang berkaitan dengan materi pendidikan, hal ini perlu diperlukan karena anatar satu komponen pendidikan dengan komponen lainnya saling berkaitan.[10]
Menurut sistem dalam pendidikan islam, Sasaran evaluasi pendidikan islam secara garis besar meliputi empat kemampuan dasar anak didik, yaitu:
1.      Sikap dan pengalaman pribadinya, hubungan dengan tuhan.
2.      Sikap dan pengalaman dirinya, hubungannya dengan masyarakat.
3.      Sikap dan pengalaman kehidupannya, hubungannya dengan alam sekitar.
4.      Sikap dan pandangannya terhadap dirinya sendiri selaku hamba Allah dan selaku anggota masyarakatnya, serta selaku khalifah dimuka bumi.[11]
Keempat kemampuan dasar tersebut dijabarkan dalam klasifikasi kemampuan teknis menjadi asing-masing sebagai berikut.
a.       Sejauh mana loyalitas dan kesungguhan untuk mengabikan dirinya kepada tuhan dengan indikasi-indikasi lahiriah berupa tingkah laku yang mencerminkan keimanan dan ketakwaannya kepada tuhan.
Aspek teknis ini berwujud dalam bentuk tingkah laku yang merujuk kepada keimanan, ketekunan beribadah, kemampuan praktis dalam mengerjakan syariat islam dan cara menanggapi atau melakukan responsi terhadap permaslahan hidup seperti tawakkal, sabar dan ketenangan batin serta menahan amarah.
b.      Sejauh mana menerapkan nilai-nilai agamanya dan kegiatan hidup bermasyarakat, seperti berakhlak mulia dalam pergaulan, disiplin dalam menjalankan norma-norma agama dalam kaitannya dengan ornag lain, misalnya ketepatan memenuhi janji, menunaikan amanat, tak mau berdusta, egoisme , anti sosial, dan lain-lain sifat-sifat yang tercela.
c.       Bagaiman ia berusaha mengelola dan memelihara serta menyesuaikan dirinya dengan alam sekitar, apakah ia merusaka lingkungan hidup, apakah ia mampu mengubah lingkungan sekitar menjadi bermakna bagi kehidupan diri dan masyarakat.
d.      Bagaiamna dan sejauh mana ia sebagai seorang muslim memandang dirinya sendiri, dalam berperan sebagai hamba Allah dalam mengahadapi kenyataan bermasyarakat yang beraneka macam berbudaya dan suku serta agama. Bagaiman seharusnya ia mengelola dan memanfaatkan serta memlihara kelangsungan hidup dalam lingkungan sekitar sebagai anugerah Allah. Apakah ia memiliki pandangan diri sendiri negatif atau positif, memandang dirinya memiliki kesanggupan untuk berperan positif dan partisipatis dalam pembangunan masyarakat apakah ia mempunyai pendirian dan pandangan yang tetap, tak berubah-ubah, ataukah ia berperan sebagai pengikut, bersikap lemah dan tak peduli terhadap permaslahan hidup lingkungannya[12]
Sasaran evaluasi tersebut dirumuskan kedalam item-item pertanyaan atau statemen-statemen yang disajikan kepada mansuia didik untuk ditanggapi. Hasil dari tanggapan mereka kemudian dianalisis secara psikologis, karena yang menjadikan pokok persoalan evaluasi adalah sikap mental dan pandangan dasar dari mereka sebagai manifestasi dari keimanan dan keislaman serta ilmu pengetahuannya.

2.      PROSEDUR DALAM KONSEP EVALUASI
Langkah-langkah penting dalam proses evaluasi yang baik adalah sebagai berikut:
1)      Merumuskan lebih dahulu suatu filsafat pendidikan yang dianut.
Setiap guru, setiap sekolah, setiap masyarakat atau bangsa mempunyai filsafat sendiri,. Filsafat pendidikan ialah cara pandang seseorang terhadap dasar, sifat, tujuan, serta keharusan pada umumnya. Jadi apapun dasarnya mengenai persoalan-persoalan harus terdapat kesesuaian sebelum ada evaluasi,
2)      Memahami dasar dan sifat dalam pembelajaran.
Dalam pembelajaran tentunya ada perubahan-perubahan ketika ia mengalami pengalaman-pengalaman, begitu dengan belajar kita dapat menilai, mendorong, dan mengetahuinya apakah dengan belajar seseorang akan mengalami perubahan atau tidak.
3)      Mengetahui tujuan yang jelas
Seorang guru yang baik, murid yang baik selalu akan mempunyai tujuan-tujuan yang jelas, yaitu dengan memperlihatkan kemajuan-kemajuan yang dicapai dan dapat diukur. Ukuran tersebut yaitu melalui tes.
4)      Menyatakan tujuan dengan bentuk fungsi-fungsi yang jelas.
Yaitu menyatakan tujuan dalam bentuk tingkah laku yang jelas seperti yang dikatakan oleh smith dan tylor, bahwa panitia yang bertugas mengadakan evaluasi terhadap cara-cara berfikir yang efektif dapat memadai adanya bermacam-macam tingkah laku yang oleh kebanyakan sekolah dianggap sebagai aspek-aspek dari cara berfikir yang efektif.

5)      Menentukan dalam satuan-satuan yang penting.
Dalam evaluasi yang baik tentunya harus ada langkah-langkah untuk melakukan observasi atau pengamatan terhadap kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh anak didik atau siswa. Hal tersebut merupakan suatu alat yang bermanfaat dalam mengadakan evaluasi.[13]

3.      MACAM-MACAM EVALUASI
Menurut Tom finaldin, (2001), ada beberapa jenis-jenis evaluasi yang dapat dilaksanakan dalam pendidikan, yaitu:
1.      Evaluasi formatif .
Evaluasi formatif adalah penilaian yang dilaksanakan setelah murid mengikuti program pengajaran, misalnya satu poko bahasan. Evaluasi formatif bertujuan memperoleh umpan balik mengenai keberhasilan proses belajar mengajar yang telah dilaksanakan.
2.      Evaluasi sumatif.
Evaluasi ini dilakukan pada akhir program. Misalnya setelah beberapa pokok bahasan, dilakukan penilaian yang waktunya dapat pada pertengahan semester. Penilaian ini untuk bertujuan menetapkan nilai kemampuan siswa setelah mengikuti suatu program pengajaran. Hasil evaluasi sumatif diperlukan dalam pengisian buku laporan pendidikan dan penentuan kelulusan.
3.      Evaluasi placemen/penempatan.
Evaluasi penempatan adalah penialaian yang dilaksanakan untuk mengetahui kemampuan persyaratan yang dimiliki siswa sebelum memulai atau melanjutkan pada program pengajaran tertentru. Evaluasi penempatan memungkinkan guru menempatkan siswa kedalam proses belajar mengajar yang sesuiai dengan bakat dan minat, kemampuan, dan kesanggupan sehingga siswa tidak mengalami hambatan dalam mengikuti setiap program pengajaran  yang disajikan.
4.      Evaluasi diagnostik.
Evaluasi diagnostik merupakan penilaian yang dilakukan terhadap hasil belajar siswa untuk mendaptkan data mengenai kelemahan, kekurangan, kesulitan yang dihadapi  siswa dalam proses belajar mengajar.[14]
Berdasarkan pemikiran-pemikiran dan kesimpulan diatas, tampaklah pada kita akan pentingnya penyelenggaraan kegiatan evaluasi, oleh karena itu, sudah sepatutnya seorang guru memliki kemampuan menyelenggarakan  kegiatan evaluasi. Seorang guru akan lebih menguasai kemampuan ini apabila sejak dini atau sejak sebagai calon guru sudah dikenalkan dengan kegiatan evaluasi.
Dengan demikian evaluasi sangat penting perananya dalam mengukur kemampuan peserta didik dalam proses pendidikan.kesimpulan diatas, tampaklah pada kita akan pentingnya penyelenggaraan kegiatan evaluasi, oleh karena itu, sudah sepatutnya seorang guru memliki kemampuan menyelenggarakan  kegiatan evaluasi.
  
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Berdasarkan uraian bab sebelumnya penulis dapat mengemukakan simpulan sebagai berikut.
Evaluasi dalam pendidikan merupakan cara atau teknik penilaian terhadap tingkah laku anak didik berdasarkan standar perhitungan yang bersifat komprehensif dari seluruh aspek-aspek kehidupan mental psikologis dan spiritual-religius.
Dengan demikian evaluasi sangat penting perananya dalam mengukur kemampuan peserta didik dalam proses pendidikan.kesimpulan diatas, tampaklah pada kita akan pentingnya penyelenggaraan kegiatan evaluasi, oleh karena itu, sudah sepatutnya seorang guru memliki kemampuan menyelenggarakan  kegiatan evaluasi. Seorang guru akan lebih menguasai kemampuan ini apabila sejak dini atau sejak sebagai calon guru sudah dikenalkan dengan kegiatan evaluasi.

3.2.  Saran
Demikian makalah yang dapat kami buat. Kami menyadari bahwa makalah yang kami susun ini jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang konstruktif dari pembaca demi lebih baiknya penulisan makalah yang selanjutnya. Semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi kita semua.




DAFTAR PUSTAKA

Dr. Abuddin Nata,.  “Ilmu Pendidikan Islam”, AMZAH, bumi aksara, Jakarta.  2010.
Yana Wardhana, Teori belajar dan mengajar,PT. Pribumi Mekar, Bandung, 2010
Prof. H.M Arifin, M.Ed, Ilmu pendidikan Islam,Bumi Aksara, jakarta. 2014.
Prof. Pupuh Fathurrohman, M. Sobry Sutikno, M.Pd, Strategi belajar mengajar melalui penanaman konsep umum dan konsep islami,PT. Refika Aditama, Bandung. 2010
Dr. Dimyati, Drs. Mudjiono, belajar dan pembelajaran,Rineka cipta, jakarta. 2013
Drs. Bukhory Umar, ilmu pendidikan Islam,Mizan, Jakarta, 2010





[1]Prof. Pupuh Fathurrohman, M. Sobry Sutikno, M.Pd, Strategi belajar mengajar melalui penanaman konsep umum dan konsep islami, Hal:17
[2]Dr. Dimyati, Drs. Mudjiono, belajar dan pembelajaran, Hal: 191-192
[3]Yana Wardhana, Teori belajar dan mengajar, Hal: 57
[4]Dr. Dimyati, Drs. Mudjiono, belajar dan pembelajaran, Hal: 192-194
[5]Prof. H.M Arifin, M.Ed, Ilmu pendidikan Islam, Hal: 162
[6]Saefuddin, Ilmu pendidkan Islam, Hal.: 126
[7]Drs. Bukhory Umar, ilmu pendidikan Islam, Hal: 196
[8]Dr. Dimyati, Drs. Mudjiono, belajar dan pembelajaran, Hal: 200-201
[9][9]Prof. Pupuh Fathurrohman, M. Sobry Sutikno, M.Pd, Strategi belajar mengajar melalui penanaman konsep umum dan konsep islami, Hal:17
[10]Dr. Abuddin Nata, ilmu pendidikan islam, Hal: 309
[11]Prof. H.M Arifin, M.Ed, Ilmu pendidikan Islam, Hal: 162
[12]Prof. H.M Arifin, M.Ed, Ilmu pendidikan Islam, Hal: 162-163
[13]Yana Wardhana, Teori belajar dan mengajar, Hal: 60-63
[14]Yana Wardhana, Teori belajar dan mengajar, Hal: 63-64
Oldest Post
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar